Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

JENIS LAYANAN DAN KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELIN




JENIS LAYANAN DAN KEGIATAN
 BIMBINGAN DAN KONSELIN

A.      Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru atau seseorang terhadap lingkungan yang baru dimasukinya. Pemberian layanan ini bertolak dari anggapan bahwa memasuki lingkungan baru bukanlah hal yang selalu dapat berlangsung dengan mudah dan menyenangkan bagi setiap orang. Ibarat seseorang yang baru pertama kali datang kesebuah kota besar, maka ia berada dalam keadaan serba “buta” buta tentang arah yang hendak dituju, buta tentang jalan-jalan, dan buta tentang ini dan itu. Akibat dari kebutaannya itu, tidak jarang ada yang tersesat dan tidak mencapai apa yang hendak ditujunya. Demikian juga bagi siswa baru disekolah dan atau bagi orang-orang yang baru memasuki suatu dunia kerja, mereka belum banyak mengenal tentang lingkungan yang baru dimasukinya.
1.      Layanan Orientasi di Sekolah
Bagi siswa ketidakkenalan atau ketidaktahuannya terhadap lingkungan lembaga pendidikan (sekolah) yang di sekolah yang baru dimasukinya itu dapat memperlambat kelangsungan proses belajarnya kelak.
Allan & Mc Kean (1984) menegaskan bahwa tanpa program orientasi, periode penyesuaian untuk sebagian besar siswa berlangsung kira-kira tiga atau empat bulan. Dalam kaitan itu, penelitian Allan&McKean menunjukkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu:
a.       Program orientasi yang efektif mempercepat proses adaptasi, dan juga memberikan kemudahan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan mesalah
b.      Murid-murid yang mengalami masalah penyesuaian ternyata kurang berhasil di sekolah
c.       Anak-anak yang dari kelas sosio-ekonomi yang rendah memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan diri daripada anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang lebih tinggi.
Individu yang memasuki lingkungan baru perlu segera dan secepat mungkin memahami lingkungan barunya itu. Hal-hal yang perlu diketahui it pada garis besarnya adalah keadaan lingkungan fisik (seperti gedung-gedung, peralatan, kemudahan-kemudahan fisik). Untuk lingkungan sekolah misalnya, materi orientasi yang mendapat penekanan adalah :
a.       Sistem penyelenggaraan pendidikan pada umumnya
b.      Kurikulum yang ada
c.       Penyelenggaraan pengajaran
d.      Kegiatan belajar siswa yang diharapkan
e.       Sistem penilaian. ujian, dan kenaikan kelas
f.       Fasilitas dan sumber belajar yang ada (seperti ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang praktek)
g.      Fasilitas penunjang (sarana olahraga dan rekreasi, pelayanan kesehatan, pelayanan bimbingan dan konseling, kafetaria dan tata usaha)
h.      Staf pengajar dan tata usaha
i.        Hak dan kewajiban siswa
j.        Organisasi siswa
k.      Organisasi orangtua siswa
l.        Organisasi sekolah secara menyeluruh

2.      Metode Layanan Orientasi Sekolah
Keluasan dan kedalaman masing masing pokok materi diatas yang disampaikan kepada siswa disesuaikan dengan jenjang sekolah dan tingkat perkembangan anak. Untuk anak-anak yang baru memasuki kelas satu SD, tentulah materi-materi tersebut tidak perlu (dan tidak dapat) disampaikan kepada ank-anak yang masih sangat muda itu.
Allen&McKean menyarankan beberapa kegiatan untuk anak-anak yang segera memasuki SLTP, yaitu:
a.       Kunjungan ke SD pemasok
Petugas dari SLTP (misalnya konselor sekolah bersama guru-guru lain yang ditugaskan) mengunjungi SD-SD yang para lulusannya akan memasuki SLTP tersebut. Disana para petugas itu menjelaskan berbagai hal-ihwal SLTP itu kepada murid-murid SD kelas tinggi yang diharapkan akan memasuki SLTP yang dimaksudkan.
b.      Kunjungan ke SLTP pemesan
Murid-murid SD kelas tinggi mengunjungi SLTP yang akan mereka masuki. Di sana mereka melihat lingkungan dan kelengkapan sekolah, menerima penjelasan lengkap dengan gambar, film, poster, dan tanya jawab
c.       Pertemuan dengan orang tua
Orang tua murid baru diundang menghadiri suatu pertemuan (boleh siang atau malam) untuk beramah tamah dengan staf sekolah dan menerima penjelasan tentang hal-ikhwal sekolah tempat anak-anak mereka belajar
d.      Staf konselor bertemu dengan guru membicarakan siswa-siswa baru
Dengan guru-guru (dan kepala sekolah) konselor membicarakan materi orientasi dan cara-cara penyampaiannya kepada siswa. Guru-guru (dengan dikoordinasikan oleh konselor sekolah) melaksanakan kegiatan orientasi itu.
e.       Mengunjungi kelas
Konselor berkeliling mengunjungi kelas-kelas murid baru. Konselor menjelaskan dengan berbagai alat bantu dan prosedur tanya jawab tentang berbagai materi tersebut.
f.       Memanfaatkan siswa senior
Sistem “memanfaatkan siswa senior” ternyata amat efektif. Hasil penelitian Allan&McKean menunjukkan bahwa periode penyesuaian diri yang tadinya diperlukan rata-rata tiga bulan bagi setiap siswa baru, setelah diselenggarakan kegiatan orientasi dengan memanfaatkan siswa senior

3.      Layanan Orientasi di Luar Sekolah
Cara penyajian orientasi di luar sekolah sangat tergantung pada jenis orientasi yang diperlukan dan siapa yang memerlukannya. Lembaga-lembaga seperti “Pusat Rehabilitas Narapidana, Pusat Orientasi Tenaga Kerja”, dan lain-lain dapat dibentuk oleh konselor menjadi tenaga ahli serta penggerak lembaga bantuan khusus di masyarakat itu.

B.       Layanan Informasi
Secara umum, bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Dengan demikian, layanan orientasi dan informasi itu petama-tama merupakan perwujudan dari fungsi pemahaman pelayanan bimbingan dan konseling. Lebih jauh, layanan orientasi dan informasi akan dapat menunjang pelaksanaan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling lainnya dalam kaitan antara bahan-bahan orientasi dan informasi itu dengan permasalahan individu.
Ada tiga alasan utama mengapa pemberian informasi perlu diselenggarakan. Pertama, membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial-budaya. Dalam hal ini, layanan informasi berusaha merangsang individu untuk dapat secara kritis mempelajari berbagai informasi berkaitan dengan hajat hidup dan perkembangannya. Kedua, memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya “kemana dia akan pergi”. Syarat dasar untuk dapat menentukan arah  hidup adalah apabila ia mengetahui apa (informasi) yang harus dilakukan serta bagaimana bertindak secara kreatif dan dinamis berdasarkan atas informasi-informasi yang ada. Dengn kata lain berdasarkan atas informasi yang diberikan itu individu diharapkan dapat membuat rencan-rencana dan keputusan tentang masa depannya serta bertanggung jawab atas rencana dan keputusn yang dibuatnya itu. Dan ktiega, setiap individu adalah unik. Keunikan itu akan membawakan pola-pola pengambilan keputusan dan bertindak yang berbeda-beda disesuaikan dengan aspek-aspek kepribadian masing-masing individu.
Dengan ketiga alasan itu, layanan informasi merupakan kebutuhan yang amat tinggi tingkatannya. Lebih-lebih apabila diingat bahwa “masa depan adalah abad informasi”, maka barang siapa tidak memperoleh informasi, maka ia akan tertinggal dan akan kehilangan masa depan.
1.      Jenis – jenis Informasi
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling ada tiga jenis informasi, yaitu:
a.      Informasi Pendidikan
Norris, Hatch, Engelkes & Winborn (1977) menekankan bahwa informasi pendidikan meliputi data dan keterangan yang sahih dan berguna tentang kesempatan dan syarat-syarat berkenaan dengan berbagai jenis pendidikan yang ada sekarang dan yang akan datang. Materi kurikuler dan ko-kurikuler yang disajikan, syarat-syarat untuk memasuki pendidikan latihan, kondisi dan kemungkinan-kemungkinan masalah yang timbul, semuanya merupakan btir-butir pokok informasi yang amat penting.

b.      Informasi Jabatan
Norris dkk, mengklasifikasikan informasi jabatan/pekerjaan kedalam empat tingkat, yaitu tingkat SD, SLTP, SLTA, dan pasca SLTA
a)      Tingkat SD
Tingkat ini merupakan tingkatan yang paling awal an mendasar. Informasi yang diberikan pada tingkat ini bersifat umum dan tidak mengarah pada jenis-jenis pekerjaan/jabatan tertentu. Pemberian untuk anak-anak SD pada umumnya dimaksudkan untuk :
1.      Mengembangkan sikap terhadap segala jenis pekerjaan
2.      Membawa anak-anak untuk menyadari betapa luasnya dunia kerja yang ada
3.      Memjawab berbagai petanyaan anak-anak tentang pekerjaan
4.      Untuk memilih suatu pekerjaan diperlukan informasi yang tepat yaitu tentang hakikat pekerjaan itu sendiri, latihan yang diperlukan, kondisi kerja dan sebagainya
5.      Untuk memilih pekerjaan atau karir dimasa depan perlu kehati-hatian  dan pertimbangan yang matang
b)     Tingkat SLTP8
Pada  tingkatan ini diharapkan para siswa mulai:
1.      Mempelajari bidang pekerjaan secara lebih luas seperti perdagangan, permesinan, perkantoran, dll
2.      Melihat hubungan antara bidang-bidang pekerjaan itu dengan mata-mata pelajaran yang ada disekolah
3.      Lebih mendalami informasi tentang pekerjaan tertentu
4.      Memahami pentingnya dan ruang lingkup perencanaan pekerjaan/karir
c)      Tingkat SLTA
Pada tingkatan ini pekerjaan SLTA hendaklah meliputi cakupan yang memungkinkan siswa
1.      Mempergunakan berbagai cara untuk memperdalam dan memperluas pemahaman tentang dunia kerja pada umumnya dan bidang pekerjaan tertentu pada khususnya
2.      Mengembangkan rencana sementara pekerjaan yang akan menjadi pegangan setamat SLTA
3.      Memiliki pengetahuan tentang taupun mempunyai hubungan dengan pekerjaan tertentu
d)     Pasca SLTA
Selepas SLTA para remaja/pemuda pada umumnya memasuki dunia kerja atau melanjutkan pelajaran keperguruan tinggi. Karena dunia kerja itu selalu berubah, mereka memerlukan informasi tentang pekerjaan-pekerjaan baru dengan berbagai kondisi dan syarat-syaratnya. Informasi tersebut berguna bagi penyesuaian pilhan pekerjaan dan sekaligus pilihan program-program pendidikan dan latihan yang relevan

c.       Informasi Sosial-Budaya
Masyarakat indonesia dikatakan juga masyarakat yang majemuk, kaena berasal dari berbagai suku bangsa, agama dan adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Perbedaan-perbedaan ini sering pula membawa perbedaan dalam pola dan sikap hidup sehari-hari. Namun demikian, perbedaan-perbedaan itutetap dalam kesatuan sebagaimana tertera dalam Lambang Negara Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”. Perbedaan-perbedaan yang dimiliki itu hendaknya tidak mengakibatkam masyarakat bercerai-berai, tetapi justru menjadi sumber inspirasi dalam hidup bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, yang dapat hidup berdampingan antara yang satu dengan yang lainnya.
2.      Metode Layanan Informasi di Sekolah
Pemberian informasi kepada siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti metode ceramah, diskusi panel, buku panduan dll
a)      Ceramah
Ceramah merupakakn metode pemberian informasi yang paling sederhana, mudah dan murah, dalam arti metode ini dapat dilakukan hampir oleh setiap petugas bimbingan disekolah. Di samping itu, teknik ini juga tidak memerlukan prosedur dan biaya yang banyak. Penyajian informasi dapat dilakukan oleh kepala sekolah, konselor, guru-gurur dan staf sekolah lainnya.
b)     Diskusi
Penyampaian informasi kepada siswa dapat dilakukan melalui diskusi. Diskusi semacam ini diorganisasikan baik oleh siswa sendiri maupun konselor, atau guru.
c)      Buku panduan
Buku-buku panduan (seperti buku panduan sekolah atau perguruan tinggi , buku panduan kerja bagi para karyawan) dapat membantu siswa dalam mendapatkan banyak informasi yang berguna. Selain itu siswa juga dapat diajak membuat “buku karier” yang merupakan kumpulan berbagai artikel dan keterangan tentang pekerjaan/pendidikan dari koran-koran dan media cetak lainnya.
d)     Layanan Informasi di Luar Sekolah
Sebagai layanan orientasi, layanan informasi juga banyak diperlukan oleh warga mayarakat di luar sekoah. Jenis-jenis informasi yang diperlukan itu pada dasarnya sejalan dengan informasi yang telah diuraikan di atas, yaitu formasi berkenaan dengan penghidupan yang lebih luas, yaitu berkehidupan beragama, berkeluarga, bekerja, bermasyarakat, dan bernegara dapat merupakan kebutuhan banyak warga masyarakat.

C.    Layanan Penempatan dan Penyaluran
Individu sering mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan, sehingga tidak sedikit individu yang bakat , kemampuan minat, dan hobinya tidak tersalurkan dengan baik. Disekolah banyak wadah dan kegiatan yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan bakat, kemampuan dan minat serta hobi, misalnya kegiatan pramuka, PMR, kegiatan kesenian, olahraga, dan sebagainya.
1.      Penempatan dan Penyaluran Siswa di Sekolah
Penempatan dan penyaluran siswa disekolah dapat berupa:
a.      Layanan Penempatan di dalam kelas
Layanan penempatan di dalam kelas itu merupakan jenis layanan yang paling sederhana dan mudah dibandingkan dengan layanan penempatan penyaluran lainnya. Penempatan masing-masing anak secara tepat akan membawa keuntungan:
1.      Bagi siswa yang bersangkutan, yaitu memberikan penyesuaian dan pemeliharaan terhadap kondisi individual siswa (kondisi fisik, mental, sosial)
2.      Bagi guru, khususnya dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas, dengan penempatan yang tepat menjadi lebih mdah menggerakkan dan mengembangkan semangat belajar siswa.
Kedua kentungan diatas pada akhirnya bermuara pada pemberian kemudahan bagi pengembangan anak secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan masing-masing.

b.      Penempatan dan penyaluran ke dalam kelompok belajar
Pembentukan kelompok belajar mempunyai dua tujuan pokok. Pertama, untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Tujuan ini biasanya diterapkan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar yang menggunakan sistem maju bekelanjutan. Dalam sistem ini setiap siswa mempunyai kesempatan untuk maju sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa harus menunggu atau didesak oleh siswa lain. Kedua, untuk wadah belajar bersama. Dalam pengelompokan ini dilakukan tidak menurut kemampuan siswa, melainkan dilakukan sedemikian rupa sehingga di dalam suatu kelompok belajar akan terdapat siswa-siswa yang kemampuannya pandai, sedang dan kurang. Atau dapat juga berdasarkan atas pilihan siswa.

c.       Penempatan dan penyaluran ke dalam kegiatan ko/ekstrakurikuler
Kegiatan ko /ekstrakurikuler merupakan bagian dari kurikulum. Sebagaimana dengan kegiatan-kegiatan lain, kegiatan ko/ekstrakurikuler pun dapat menjadi wadah belajar bagi siswa. Penempatan dalam kegiatan ko/ekstrakurikuler yang tepat dapat membantu siswa-siswa itu memperoleh pemahaman yang diperlukannya untuk dapat ikut serta dalam kegiatan-kegiatan itu secara efektif.

d.      Penempatan dan penyaluran kejurusan/program studi
Setiap awal tahu ajaran, banyak siswa SMA yang menghadapi masalah dalam pengambilan jurusan /program apa yang akan diambil. Mereka menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Namun disamping itu banyak juga siswa yang tidak dapat membuat rencananya secara realistis. Mereka membuat rencana hanya berdasarkan atas kemauan dan keinginan, tidak menyesuaiakanya dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.

2.      Penempatan dan Penyaluran Lulusan
Pada setiap akhir tahun ajaran ratusan ribu bahkan jutaan anak muda menamatkan studi dari jenjang pendidikan tertentu. Pada umumnya mereka mendambakan untuk dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Atau bagi yang memang tidak bermaksud untuk melanjutkan pendidikan, mereka mendambakan untuk dapat diterima pada lapangan kerja yang sesuai.
Saat seperti itu merupakan saat yang paling kritis bagi kebanyakan para lulusan, baik tamatan pendidikan dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi. Mereka berada dalam masa transisi dari satu tingkat pedidikan ke tingkat pedidikan lainnya atau dari dunia pendidikan.
Masalah lain yang dihadapi ialah banyak diantara para lulusan tadi yang setelah diterima pada lembaga pendidikan yang lebih tinggi, justru tidak dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan, mereka mengundurkan diri, atau pindah ke sekolah yang lain, atau terhambat kemajuan belajar di sekolah yang sama. Begitu juga bagi yang diterima pada lapangan kerja tertentu, banyak diantaranya yang merasa tidak betah pada jabatan atau pekerjaan itu, dan tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik.
a.      Penempatan dan Penyaluran ke dalam Pendidikan Lanjutan
Penempatan dan penyaluran siswa pada pendidikan lanjutan tidak dapat dilakukan secara acak, tetapi memerlukan perencanaan yang matang sebelum siswa tamat dari bangkusekolah yang sedang didudukinya. Karena hal ini, baik langsung maupun tidak langsung, juga akan mengangkat citra sekolah secara keseluruhan, maka sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menyelenggarakan pelayanan penempatan dan penyaluran para siswanya setelah mereka tamat nantinya.

b.      Penempatan dan Penyaluran ke dalam Jabatan atau Pekerjaan
Di samping penempatan dalam pedidikan, sekolah juga membantu para siswanya yang akan memasuki dunia kerja. Walaupun di sekeliling siswa tersedia berbagai lapangan kerja, tetapi tidak semua lapangan kerja itu dapat dengan mudah atau cocok untuk dimasuki. Sebagaimana halnya dengan dunia peididikan, maka masing-masing bidang pekerjaan itu meiliki sifat dan ciri-ciri tersendiri. Sifat dan ciri pekerjaan tercantum pada informasi pekerjaan sebagaimna telah diutarakan. Selanjutnya, untuk keperluan praktis informasi tersebut dituangkan kedalam kriteria penerimaan tenaga kerja.
Layanan penempatan dan penyaluran boleh dikatakan sebagai bentuk khusus yang paling nyata dari berbagai fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam segala pelayanan bimbingan dan konseling. Dengan layanan tersebut individu dipelihara kondisinya, sambil diperbaiki kondisi-kondisi yang kurang memungkinkan terjadinya proses perkembangan yang semakin cepat dan lancar sehingga tercapai keadaan optimal sesua dengan tahap perkembangan yang sedang dijalaninya.

D.    Layanan Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselengarakan di sekolah. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai. Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalu tahap-tahap:
1.      Pengenlan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar
Di sekolah, banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal seperti angka-angka rapor rendah, tidak naik kelas, dan tidak lulus ujian akhir. Secara umum, siswa-siswa yang seperti itu dapat dipandang sebagai siswa-siswa yang mengalami masalah belajar. Secara lebih luas, maslah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, yang pada umumnya dapat digolongkan atas:
a)      Keterlambatan Akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki inteligensi yang cukup tinggi, tetapi tidak memanfaatkan secara optimal.
b)      Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.
c)      Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu pertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus.
d)     Kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
e)      Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan yang seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ngulur waktu, membenci guru, tida mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya.
Siswa yang mengalami masalah belajar dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui:
·         Tes Hasil Belajar
Tes Hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. Ketentuan ini merupakan penerapan dari konsep belajar tuntas mastery learning yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi waktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mempelajari bahan yang disajikan.
·         Tes Kemampuan Dasar
Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau inteligensi tertentu. Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadminstraikan tes inteligensi yang sudah baku.
I.Q. 140 ke atas      - Sangat cerdas
        120-139           - Cerdas
        110-129           - Diatas Rat-rata
        90-109             - Normal atau Rata-rata
        80-89               - Dibawah Rata-rata
        70-79               - Bodoh
        Dibawah 70     - Sangat Bodoh
·         Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar
Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor penting dalam belajar. Sebagia dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas. Misalnya, dalam hal mengerjakan tugas-tugas, membaca buku, membuat catatan dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan belajar siswa. Untuk mengungkapkan beberapa alat yang berupa “Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar: alat ini dapat mengungkapkan derajat cara siswa mengerjakan tugas-tugas sekolah, sikap terhadap guru, sikap dalam menerima pengajaran, dan kebiasan dalam melaksanakan kegiatan belajar.
·         Tes Diagnostik
Tes diagnostik merupakan instrumen untuk mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Misalnya untuk mata pelajaran berhitung atau matematika apakah dijumpai kesalahan-kesalahan dalam operasi berhitung, atau pemakaian rumus-rumus untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan.
·         Analisis Hasil Belajar atau Karya
Analisis hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostik. Tujuan sama, yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. Apabila tes diagnostik disusun, dibakukan, dan diselenggarakan dalam bentuk tes diagnostik disusun, dibakukan, dan diselengarakan dalam bentuk tes, analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaanya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa, baik melalui tulisan, bentuk grafik atau gambar, bentuk tiga dimensi yang berupa model, maket, dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya, serta gerak dan suara. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto, film, ataupun rekaman vidio.

2.      Upaya Membantu Siswa yang Mengalami Masalah Belajar
Siswa yang mengalami masalah belajar perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a)      Pengajaran perbaikan
Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memeprbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses danhasil belajar mereka. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahan pengertian, dan tidak mengusai konsep-konsep dasar.
b)     Kegiatan pengayaan
Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar. Misalnya seperti sistem pengajaran dengan modul, paket belajar, dan pengajaran yang berprogram lainnya.
c)      Peningkatan motivasi belajar
Guru, konselor dan staf lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan:
1.      Memperjelas tujuan-tujan belajar.
2.      Menyesuaikan pengajaran dengan bakat kemampuan dan minat siswa
3.      Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang, dan menyenangkan
4.      Memberikan hadiah dan hukuman
5.      Menciptakan suasana hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan murid.
d)     Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Baik
Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan kebiasaan yang tidak diharapkan dan tidak efektif. Apabila siswa memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu, maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik, karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan yang keras.
e)      Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling
Keefektifan pengentasan masalah melalui konseling sebenarnya dapat dideteksi sejak awal klien mengalami masalah. Dari keadaan yang paling awal itu sampai konseling yang paling akhir nantinya pada waktu masalah klien terentaskan, dapat diidentifikasi lima tahap. Kelima tahapan konseling yaitu: kesadaran dan pemahaman masalah, kesadaran akan perlunya bantuan orang lain, usaha mencari bantuan, partisipasi aktif dalam proses bantuan konseling, dan pa konseling.
f)       Pendekatan dan Teori Konseling
Pada dasrnya toeri-teori konseling dapat dikelompokan ke dalam tiga pendekatan, yaitu pendekatan konseling direktif, konseling non direktif, konseling direktif, dan konseling elektrik. Pendekatan-pendekatan itu terutama pendekatan direktif dan non direktif, masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, bahkan bertolak belakang terutama tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah.

E.     Layanan Konseling Perorangan
1.      Layanan Konseling Diselenggarakan Secara Resmi
Konseling merupakan layanan yang teratur, terarah, dan terkontrol serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya. Sebagai rambu-rambu pokok dalam pelaksanaan layanan konseling, Munro dkk 1997 mengemukakan tiga dasar etika konseling, yaitu kerahasian, keterbukaan, dan tanggung jawab pribadi klien. Tidaklah pelayanan konseling bersifat etis apabila kerahasia klien terlanggar, demikian pula tidaklah etis suatu layanan konseling yang diselenggarakan dalam suasan keterpaksaan klien, dan lagi tidaklah etis suatu layanan konseling apabila tanggung jawab klien atas tingkah lakunya sendiri dikurangi.

2.      Pengentasan Masalah Melalui Konseling
Melalui konseling klien mengharapkan agar masalah yang dideitanya dapat dientaskan. Langkah-langkah umum upaya pengentasan masalah melalui konseling pada dasrnya adalah:
a.       Pemahaman masalah
b.      Analisis sebab-sebab timbulnya masalah
c.       Aplikasi metode khusus
d.      Evaluasi
e.       Tindak lanjut


3.      Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling
Keefektifan pengentasan masalah melalui konseling sebenarnya dapat dideteksi sejak awal klien mengalami masalah. Dari keadaan yang paling awal itu sampai konseling yang paling akhir nantinya pada waktu masalah klien terentaskan, dapat diidentifikasi lima tahap. Kelima tahapan konseling yaitu: kesadaran dan pemahaman masalah, kesadaran akan perlunya bantuan orang lain, usaha mencari bantuan, partisipasi aktif dalam proses bantuan konseling, dan pa konseling.

4.      Pendekatan dan Teori Konseling
Pada dasrnya toeri-teori konseling dapat dikelompokan ke dalam tiga pendekatan, yaitu pendekatan konseling direktif, konseling non direktif, konseling direktif, dan konseling elektrik. Pendekatan-pendekatan itu terutama pendekatan direktif dan non direktif, masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, bahkan bertolak belakang terutama tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah.
a.         Konseling Direktif
Pendekatan ini dipelopori oleh E.G. Williamson dan J.G Darley yang berasumsi dasar bahwa klien tidak mampu mengatasi sendir masalah yang dihadapinya. Karena itu, klien membutuhkan bantuan dari orang lain, yaitu konselor. Konseling direktif ini seri g juga disebut konseling yang beraliran Behavioristik, yaitu layanan konseling yang berorientasi pada pengubahan tingkah laku secara langsung (Hansen, dkk, 1997) dan (Bramer dan Stone 1982).
b.        Konseling Non-Direktif
Konseling non-direktif sering juga disebut Ciient Centered Therapy. Pendekatan ini diperoleh oleh Carl Rogers dari Universitas Wisconsim di Amerika Serikat. Konseling non-direktif merupakan upaya bantuan pemecahan masalah yang berpusat pada klien. Melalui pendekatan ini, klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiran-pikirannya secara bebas. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa seorang yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu mengatasi masalahnya sendiri. Sesuai dengan teori yang mendasarinya, yaitu Rogers tentang hakikat manusia dan tingkah lakunya, pendekatan non-direktif sering juga disebut pendekatan konseling yang beraliran Humanistik (Hansen, dkk, 1997) dan Brammer S Stone, 1982). Aliran ini menekankan pentingnya pengembangan potensi dan kemampuan yang secara hakiki ada pada setiap individu. Potensi dan kemampuan yang telah berkembang itu menjadi penggerak bagi upaya individu untuk mencapai tujuan-tujuan hidupnya.
c.         Konseling Elektrik
Konseling direktif dan konseling non-direktif merupakan dua pendekatan yang amat berbeda, yang satu lebih menekankan peranan konselor, sedangkan yang lain menekankan peranan klien.

5.      Konseling di Lingkungan
a.       Sasaran layanan konseling di SD adalah anak-anak yang masih sangat muda. Barang kali masih ada yang beranggapan bahwa anak-anak yang masih sangat muda jarng yang mengalami masalah sehingga layanan konseling sebenarnya tidak diperlukan di SD.
b.      Siswa sekolah menengah berbeda dari murid SD. Mereka berada pada tahap perkembangan remaja yang merupakan transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Konselor di sekolah menengah dituntut untuk memahami berbagai gejolak yang secara potensial sering muncul dan penanganannya.
c.       Perbedaan antara konseling di sekolah menengah dan di perguruan tinggi diwarnai oleh arah perkembangan dantujuan-tujuan yang hendak dicapai serta kekompleksan program pendidikan dan latihan di kedua jenjang pendidikan itu. Apabila di sekolah menengah para siswa belum akan segera dituntut untuk bekerja atau terjun di masyarakat, maka para mahasiswa sudah berada pada batas antara hidup tergantung pada orang tua dan hidup bebas dan mandiri. Di samping itu, para siswa di sekolah menengah mengalami proses pembelajaran yang secara relatif lebih terbimbing daripada para mahasiswa  di perguruan tinggi, proses pembelajaran di perguruan tinggi lebih bervariasi dan menuntut kemandirian mahasiswa. Berkenan dengn hal itu semua, masalah-masalah yang muncul, yaitu masalah-masalah sosial, pendidikan, pekerjaan, dan masalah-masalah pribadi diri sendiri atau personal.
d.      Konseling di Masyarakat, layanan konseling dapat diselengarakan di lembaga tertentu, seperti lembaga kerja misalnya, perusahaan, kantor, pabrik, lembaga pemasyarakatan, lembaga bantuan hukum, puskesmas, Badan Penasihat Perkawinan, Lembaga Kesehatan Masyarakat, dan Biro Konsultasi, konselor yang membuka praktek pribadi. Semua lembaga tempat konselor berpraktek layanan konseling menerapkan nilai-nilai sendiri yang harus diikuti oleh konselor. 

F.     Layanan Konseling Kelompok
1.      Ciri-ciri Kelompok
Meskipun satu kelompok terdiri dari sejumlah orang, tetapi kelompok bukan sekedar kumpulan sejumlah orang. Sejumlah orang yang berkumpul itu baru merupakan “lahan” bagi terbentuknya kelompok. Beberapa unsur perlu ditambahkan apabila kumpulan sejumlah orang itu hendak menjadi kelompok. Unsur-unsur tersebut yang paling pokok menyangkut tujuan, keanggotaan dan kepemimpinan, serta aturan yang diikuti.
Keempat unsur terbentuknya kelompok tersebut berlaku untuk semua jenis kelompok, baik dintinjau dari jumlah anggota maupun sifat dan tujuan terbentuknya kelompok. Menurut jumlah anggotanya dikenal adanya kelompok dua (yang terdiri dari dua orang), kelompok sedang (6-15 orang), kelompok agak besar (16-25 orang), kelompok besar (26-40 orang), dan seterusnya sampai dengan kelompok “raksasa” yang jumlah anggotanya ratusan ribu orang. Menurut sifat pembentukannya dikenal adanya kelompok primer (misalnya satuan keluarga) dan kelompok sekunder, yaitu kelompok yang dibentuk secara sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu (misalnya kelompok belajar, kelompok murid dalam satu kelas), kelompok organisasi pemuda, dan lain-lain). Kombinasi karakteristik kelompok itu (jumlah, sifat dan tujuan pembentukannya) dapat terpadu dalam satu kelompok. Kelompok apa pun yang terbentuk menuntut adanya unsur-unsur tujuan bersama, keanggotaan dan kemimpinan, serta aturan.

2.      Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok. Gazda (1978) mengemukakan abhwa bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan tepat. Gazda juga menyebutkan bahwa bimbingan kelompok diselenggarakan unuk memberikan informasi yang bersifat personal, vokasional, dan sosial. Telah lama dikenal bahwa berbagai informasi berkenaan dengan orientasi siswa baru, pindah program dan peta sosiometri siswa serta bagaimana mengembangkan hubungan antarsiswa dapat disampaikan dan dibahas dalam bimbingan kelompok (McDaniel, 1956). Dengan demikian jelas bahwa kegiatan dalam bimbingan kelompk ialah pemberian informasi untuk keperluan tertentu bagi para anggota kelompok.

3.      Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok pada dasrnya ialah layanan konseling perorangan yang dilaksankan dalam suasana kelompok. Disana ada konselor (yang sejumlahnya mungkin lebih dari seorang) dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya paling kurang dua orang) . Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan, yaitu hangat, terbuka, permisif, dan penuh keakraban. Dimana juga ada pengunkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika erlu menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan yindak lanjut.
Untuk memasuki konseling kelompok para anggota atau klien pada awalnya tidak memerlukan persiapan tertentu. Dengan demikian masalah yang akan mereka bawa masing-masing ke dalam kelompok besar kemunkinan berbeda-beda; atau bahkan ada di antara mereka yang menurut kategori Bordin “tidak bermasalah”. Masalah-masalah yang dibawa oleh masing-masing anggota itu nantinya akan dikemukakan dalam kegiatan kelompok. Oleh karena itu akan muncul sejumlah masalah yang berbeda-beda yang akan dibicarakan melalui dinamika interaksi sosial dalam kelompok itu.
Meyer dan Smith pada tahun 1977 melalui penelitiannya membuktikan bahwa kurangnya kepercayaan para anggota tetang terjaminnya kerahasiaan itu akan mengurangi sikap keterbukaan para anggota (dalam Davis, 1980). Selanjutnya, Davis sendiri mengunkapkan, berdasarkan hasil penelitiannya bahwa pernyataan konselor yang meyakinkan di haddapan segenapa anggota kelompok bahwa ia benar-benar akan menjaga kerahasiaan seluruh anggota kelompok secara signiikan mempengaruhi kehendak dan sikap para anggota itu mengemukakan apa yang ingin dikemukakan di dalam kelompok itu.
Dari gambaran tersebut tampak dengan jelas perbedaan antara bimbingan kelompok dan konseling kelompok, yaitu sebagai berikut:
Matrix 4
Peerbandingan Antara Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok
Aspek
Bimbingan Kelompok
Konseling Kelompok
1.      Jumlah anggota
Tidak terlalu dibatasi: dapat sampai 60-80 anggota
Terbatas: 5-10 orang
2.      Kondisi dan karakteristik anggota
Relatif homogen
Hendaknya homogen; dapat pula heterogen terbatas
3.      Tujuan yang ingin dicapai
Penguasaan informasi untuk tujuan yang lebh luas
a.       Pemecahan masalah
b.      Pengembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial
4.      Pemimpin kelompok
Konselor dan narasumber
Konselor
5.      Peranan anggota
Menerima informasi untuk tujuan kegunaan tertentu
a.       Berpartisipasi dalam dinamika interaksi sosial
b.      Menumbangkan pengentasan masalah
c.       Menyerap bahan unuk pemecahan masalah

6.      Suasana interaksi
a.       Menolong atau dialog terbatas
b.      Dangkal
a.       Interaksi multiarah
b.      Mendalam dengan melibatkan aspek emosional
7.      Sifat isi pembicaraan
Tidak rahasia
Rahasia
8.      Frenskuesi kegiatan
Kegiatan berakhir apabila informasi telah disampakan
Kegiatan berkembang sesuai denagn tingkat kemajuan pemecahan masalah. Evaluasi dilakukan dengan tinkat kemajuan pemecahan maslah.
.
Hesen, WarneR & Smith (dalam Larrabee & Terres, 1984) menegaskan lebih lanjut bahwa layanan konseling kelompok merupakan cara yang amat baik untuk menangani konflik-konflik antarpribadi dan membantu individu-individu dalam pengembangan kemampuan pribadi mereka (misalnya pengendalian diri, tenggang rasa, dan teposliro seperti tersebut). Dalam kaitan itu semua, sebagaimana konseling perorangan, konseling kelompok berorientasi pada penembangan individu, pencegahan dan pengentasan masalah ( Gazda, 1978). Tenaga yang dapat diandalkan untuk menyelenggarakan layanan konseling kelompok adalah konselor. Konselor yang efektif dalam konseling perorangan akan efektif  pula dalam konseling kelompok.
G.    Kegiatan Penunjang
Pelaksanaan berbagai jenis layanan bimbingan dan konseling memerlukan sejumlah kegiatan penunjang.
Agaknya memang benar apabila dikatakan bahwa alat dan kelengkapan yang paling handal dimiliki oleh konselor untuk menjalankan tugas-tugas pelayanannya ialah mulut dan berbagai keterampilan berkomunikasi, baik verbal maupun non-verbal.  Namun, mengingat apa yang menjadi isi komunikasi itu menjangkau wawasn yang sedemikian luas dan “multi-dimensional”, serta harus sesuai dengan data dan kenyataan yang berkenaan dengan berbagai data, keterangan dan informasi, terutama tentang klien dan lingkungannya.
1.      Instrumentasi Bimbingan dan Konseling
Pemahaman tentang diri klien, tentang masalah klien, dan tentang lingkungan yang “lebih luas” dapat dicapai dengan berbagai cara. Wawancara dan dialog yang mendalam biasanya merupakan cara yang efektif untuk mengembangkan pemahaman tentang diri dan maslah klien. Berbagai instrumen dapat membantu melengkapidan mendalami pemahaman tentang klien dan maslahnya itu. Instrumen bimbingan dan konseling memang merupakan slah satu sarana yang perlu dikembangkan agar pelayanan bimbingan dan konseling terlaksana secara lebih cermat dan berdasarkan data empirik. Termasuk ke dalam instrumen yang dimaksudkan itu adalah tes, inventori, angket dan format isian. Sedang untuk pemahaman lingkungan yang “lebih luas” dapat digunakan berbagai brosur, leaflet, selebaran, model, contoh, dan lain sebagainya.
Ada beberpa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penerapan instrumentasibimbingan dan konseling. Antara lain ialah:
(1)   Instrumen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan. Pemilihan instrumen yang akan dipergunakan didasarkan atas ketepatan kegunaan dan tujuan yang hendak dicInstrumen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan. Dalam hal ini Anastasi (1992) mengingatkan bahwwa keefektifan penggunaan instrumen dalam konseling tergantung pada ketepatan pilihan instrumen yang akan dipaki berkenaan dengan individu (yang akan mengikuti tes) dan permasalahan yang sedang ditangani. Konselor dituntut memiliki wawasan yang memadai tentang kegunaan berbagai instrumen dalam kaitannya dengan karakteristik individu dan berbagi permasalahan.
(2)   Pemakai instrumen ( dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas pemilihan instrumen yang akan dipaki (misalnya tes), monitoring pengadministrasiannya dan skoring, penginterprestasian skor dan penggunaannya sebagai sumber informasi bagi pengambilan keputusan tertentu (Anastasi, 1922). Adakalanya pemakai instrumen ini tidak mampumengamil seluruh tanggung jawab tersebut; maka ia memerlukan penyedia atau konsultan. Dalam hal ini diingatkan oleh Anastasi bahwa instrumen hanyalah alat; baik-buruknya instrumen itu sebagai alat tergantung pada pemakainya.
(3)   Pemakaian instrumen, misalnya, harus dipersiapkan secara matang, bukan hanya persiapan instrumennya saja, tetapi persiapan klien yang akan mengambil tes itu. Klien hendaknya memahami tujuan dan kegunaan tes itu dan bagaimana kemungkinan hasilnya. Bagi klien-klien yang secara khusus meminta tes, perlu diungkapkan mengapa ia merasa perlu dites. Lebih jauh, klien itu juga dipersiapkan untuk menerima hasil tes sebagaimana adanya.
(4)   Perlu diingat bahwa tes atau instrumen apa pun hanya merupakan salah satu sumber dalam rangka memahami individu secara lebih luas dan dalam. Dalam kaitan ini. Mortensen & Schmuller (1976) mengingatkan bahwa kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh para petugas bimbingan dan konseling di masa lampau adalah memaksakan pemahaman tingkah laku individu hanya berdasarkan pada hasil te tunggal semata-mata, tanpa memahami secara menyeluruh keadaan individu itu dalam batas-batas perkembangan individu-individu.
(5)   Ada dan dipergunakannya berbagai instrumen lainnya bukanlah syarat mutlak bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling. Tes dan berbagai instrumen itu sekedar alat bantu. Seperti telah dikemukakan di atas pemahaman tentang klien dan permasalahannya dapat dilaksanakan melalui wawancara dan dialog mendalam. Oleh karena itu, kekurangan ataupun ketiadaan instrumen hendaknya tidak merupakan penghambat bagi pelaksanan bimbingan dan konseling.
Fungsi pemahaman pelayanan bimbingan da konseling mencakup kegiatan dan ruang lingkup yang cukup luas. Hasil pelaksanaan fungsi pemahaman dapat merupakan titik tolak bagi upaya-upaya yang dilakukan oleh individu/klien sendiri dalam memperkembangkan diri dan menjalani kehidupannya, dan bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan perkembangan dan kehidupan klien itu.
Instrumen bimbingan dan konseling meliputi digunakan dan dikembangkan berbagai instrumen, baik berupa tes maupun non-tes.
a.      Instrumen Tes
Tes merupakan untuk mengungkapkan tingkah laku seseorang dan menggambarkannya dalam bentuk skala angka atau klasifikasi tertentu (Cronbach, 1970). Dalam bentuknya yang nyata tes meliputi serangkaian pertanyaan (tertulis atau lisan) atau tugas yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang dites; jawaban atau pengerjaan atas pertanyaan atau tugas itu dijadikan dasar untuk menentukan tingkat pengetahuan, kemampuan, keterampilan sikap atau kualifikasi orang yang bersankutan. Ada bermacam-macam tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, tes kepribadian, tes hasil belajar, tes diagnostik. Secara umum kegunaan berbagai tes itu ialah membantu konselor dalam:
(1)   Memperoleh dasar-dasar pertimbangan berkenaan dengan berbagai masalah pada individu yang dites, sepertii masalah penyesuaian dengan lingkungan, maslah prestasi atau hasil belajar, masalah penempatan dan penyaluran;
(2)   Memahami sebab-sebab terjadinya masalah dari individu;
(3)   Mengenali individu (misalnya siswa di sekolah) yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan sangat rendah yang memerlukan bantuan khusus;
(4)   Memperoleh gambaran tentang kecakapan, kemampuan, atau keterampilan seseorang individu dalam bidang tertentu.
Berbagai hal yang diperoleh konselor dari hasil tes dipergunakan konselor untuk menetapkan jenis layanan yang perlu diberikan kepada individu yang dimaksudkan.

b.      Instrumen Non-Tes
Instrumen non-tes meliputi berbagai prosedur, seperti pengamatan, wawancara, catatan anekdot, angkett, sosiometri, inventori yang dibakukan. Agar diperoleh hasil yang terandalkan, pengamatan dan wawancara dilakukan dengan mempergunakan pedoman pengamatan atau pedoman wawancara.

2.      Penyelenggaraan Himpunan Data
Data yang telah terkumpul melalui berbagai teknik/prosedur untuk sejumlah individu perlu dihimpun secara cermat. Misalnya di sekolah, seorang konselor yang bertanggung jawab atas pelayanan bimbingan dan konseling untuk 150 – 200 orang siswa perlu mengumpulkan data dalam jenis yang sangat bervariasi dan dalam jumlah yang cukup banyak. Himpunan data pribadi sering disebut cumulative record.
Data yang perlu dikumpulkan, disusun dan dipelihara meliputi data pribadi dan data umum. Data pribadi siswa di sekolah, misalnya meliputi berbagai hal dalam pokok-pokok berikut:
(1)   Identitas pribadi
(2)   Latar belakang rumah dan keluarga
(3)   Kemampuan mental, bakat dan kondisi kepribadian
(4)   Sejarah pendidikan, hasil belajar, nilai-nilai mata pelajaran
(5)   Hasil tes diagnostik
(6)   Sejarah kesehatan
(7)   Pengalaman ekstra kurikuler dan kegiatan di luar sekolah
(8)   Minat dan cita-cita pendidikan dan pekerjaan/jabatan
(9)   Prestasi khusus yang pernah diperoleh.
Data tersebut sering perlu dilengkapi dengan hasil-hasil pengamatan dan wawancara, catatan anekdot, hasil angket dan isian tentang hal-hal tertentu, hasil inventor khusus, misalnya tentang masalah-masalah yang dialami, sikap dan kebiasaan belajar, serta pelayanan yang pernah diterima masing-masing siswa.
Beberpa hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka penyelenggaraan himpunan data dan pemanfaatannya secara optimal.
(1)   Materi himpunan data yang baik (akurat dan lengkap) ssangat berguna untuk memberikan gambaran yang tepat tentang individu. Gambaran ini dapat memberikan proyeksi untuk masa depan tentang individu yang bersangkutan.
(2)   Data tentang individu selalu bertambah, berubah, berkembang, dan dinamis. Oleh karena itu data dalam kumpulan data harus selalu baru dengan menambahkan data baru dan menanggalkan data lama yang sudah tidak relevan lagi.
(3)   Data yang dikumpul disusun dalam format-format yang teratur rapi menurut sistem tertentu. Data untuk masing-masing individu dipisahkan sepenuhnya. Format dan sistem yang dipakai itu hendaknya memudahkan pemasukan data baru dan penggalan data lama, serta memudahkan pengambilan data tertentu untuk dipergunakan dan pengambilannya. Pemanfaatan komputer akan sangat memudahkan penyelenggaraan himpunan data seperti itu.
(4)   Data dalam himpunan data itu pada dasarnya bersifat rahasia. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat berhubungan dengan kumpulan data itu. Konselor wajib menyimpan dan memelihara segenap data itu sehingga kerahasiaan yang ada di dalamnya benar-benar terjamin. Orang-orang yang hendak berhubungan dengan himpunan data itu (misalnya guru) harus melalui konselor dengan jaminan bahwa kerahasiaan data itu tetap terjaga.
(5)   Mengingat bahwa data yang dikumpulkan cukup banyak, harus pula ditambah dan dikurangi sesuai dengan perkembangan, lagi pula pengeluaran data (untuk dipaki) dan pemasukannya kembali memakan waktu yang cukup banyak, konselor sering terjebak oleh pekerjaan rutin penyelenggaraan himpunan data itu. Bahkan mungkin masih ada konselor sekolah yang menganggap bahwa penyelenggaraan himpunan data itu merupakan tugas yang paling utama bagi konselor di sekolah.
Selain berkepentinga dengan himpunan data pribadi siswa, konselor di sekolah perlu pula mengumpulkan data umum, yaitu data yang menyangkut berbagai informasi dari berbagai hal tentang “lingkungan yang lebih luas”. Data umum ini pada umumnya dipakai untuk layanan orientasi dan informasi, penempatan dan penyaluran.

3.      Kegiatan Khusus
Masih ada beberapa kegiatan khusus yang memerlukan perhatian konselor, khususnya konselor yang bekerja di sekolah, untuk dapat diselenggarakan dengan baik. Di sini hanya akan disinggung tiga kegiatan, yaitu konperensi kasus, bimbingan ke rumah siswa, dan alih tangan klien.
a.      Konferensi Kasus
Konferensi kasus diselenggarakan untuk membicarakan suatu kasus. Di sekolah, konferensi kasus biasanya diselenggarakan untuk membantu permasalahan yang dialami oleh seorang siswa. Yujuan konferensi kasus ialah:
(1)   Diperoleh gambaran yang lebih jelas, mendalam dan menyeluruh tentang permasalahan siswa. Gambaran yang diperoleh itu lengkap dengan saling sangkut paut data atau keterangan yang satu dengan yang lain.
(2)   Terkomunikasi sejumlah aspek permaslahan kepada pihak-pihak yang berkentingan dan yang bersangkutan, sehingga penanganan maslah itu menjadi lebih mudah dan tuntas.
(3)   Terkoordinasinya penanganan maslah yang dimaksud sehingga upaya penanganan itu lebih efektif dan efisien.
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai itu, maka pihak-pihak yang diundang dan diminta berpartisipasi secara aktif dan langsung dalam konferensi itu ialah, pertama mererka yang berperanan sangat menentukan bagi siswa yang bermasalah (seperti orang tua/wali dan guru), kedua pihak yang diharapkan dapat memberikan keterangan ataupun masukan berkenaan dengan permaslahan di atas, dan ketiga pihak-pihak lain yang diharapkan dapat ikut memberikan kemudahan bagi penanganan maslah siswa. Oleh karena itu, sebelum pembicaraan tentang permaslahan dimulai konselor perlu terlebih dahulu mengembangkan struktur pertemuan  secara keseluruhan. Dalam penstrukturan itu konselor perlu membangun persepsi dan tujuan bersama dengan pertemuan itu dengan arahan sebagai berikut:
(1)   Tidak menekaknkan pada nama dan identitas siswa yang permaslahannya dibicarakan.
(2)   Tujuan pertemuan pada umumnya, dan semua pembicaraan pada khususnya ialah semata-mata unuk kepentingan perkembangan dan kehidupan klien; semua isi pembicaraan ialah untuk kebahagiaan klien.
(3)   Semua pembicaraan dilakukan secara terbuka, tetapi tidak membicarakan hal-hal yang negatf tentang diri siswa yang bersangkutan. Permaslahan siswa disoroti secara objektif dan tidak ditafsirkan secara negatif atau mengarah kepada hal-hal yang merugikan siswa.
(4)   Penafsiran data dan rencana-rencana kegiatan dilakukan secara rasional, sistematik, dan ilmiah.
(5)   Semua pihak berpegang teguh pada asas kerahasiaan. Semua isi pembicaraan terbatas hanya untuk keperluan pada saat pertemuan itu saja, dan tidak boleh dibawa keluar.
Konselor yang memimpin konferensi kasus sejak awalnya menegakkan ketiga butir di atas dan membawa seluruh peserta untuk melaksanakan hal yang sama.

b.      Kunjungan Rumah
Penanganan permaslahan siwa sering kali memerlukan pemahaman yang lebih jauh tentang suasana rumah atau keluarga siswa. Untuk itu perlu dilakukan kunjungan rumah. Cara yang lebih praktis untuk memperoleh data yang dikehendaki, yaitu dengan cara wawancara dengan orang tua yang dipanggil datang ke sekolah.
Kegiatan kunjungan rumah, dan juga pemanggilan orang tua ke sekolah, setidak-tidaknya memiliki tiga tujuan utama, yaitu:
a)      Memperoleh data tambahan tentang permaslahan siswa, khususnya yang bersangkutan dengan keadaan rumah/orang tua.
b)      Menyampaikan kepada orang tua tentang permasalahan anaknya
c)      Membangun komitmen orang tua terhadap penanganan maslah anaknya.
Ketiga tujuan itu sering kali tampil sekaligus pada waktu kunjungan rumah atau pemanggilan orang tua ke sekolah; namun demikian, dapat pula terjadi ketiganya direncanakan secara bertahap sesuai dengan tahap-tahap penanganan maslah. Untuk menyampaikan tujuan yang mana pun, sebagian atau bertahap, dalam kunjungan rumah konselor terlebih dahulu:
(1)   Menyampaiakan perlunya kunjungan rumah kepada siswa ang bersangkuatan. Siswa perlu memahami perlunya dan kegunaan kunjungan itu berkenaan dengan penanganan masalahnya. Kunjungan rumah tidak dapat dilakukan sebelum siswa memahami kegunaannya itu, dan mempersilakannya.
(2)   Menyusun rencana dan agenda yang konkret dan menyampaikannya kepada orang tua yang akan dikunjungi itu. Kunjungan rumah tidak dapat dilakukan sebelum orang tua mengizinkannya.
Pelaksanaan kunjungan rumah dilakukan sesuai dengan rencana. Kegiatan konselor di rumah orang tua siswa, sesuai dengan agenda yang telah disampaikan kepada orang tua, dapat berupa wawancara, pengamatan terhadap fasilitas belajar anak di rumah, diskusi atau bimbingan dan konseling kelompok dengan sejumlah anggota keluarga, pengisian daftar isian, dan lain-lain. Hasil kunjungan rumah dapat langsung dipakai sebagi bahan pertimbangan penanganan maslah, dan dapat pula dipergunakan di dalam konferensi kasus.

c.       Alih Tangan
Kegiatan alih tangan meliputi dua jalur, yaitu  jalur kepada konselor dan jalur dari konselor. Jalur kepada konselor, dalam arti konselor menerima “kiriman” klien dari pihak-pihak lain, seperti orang tua, kepela sekoalh, guru, pihak atau ahli lain (misalnya dokter, psikiater, psikolog, kepala suatu kantor atau peerusahaan). Sedangkan jadi konselor, dalam artikonselor “mengirimkan” klien yang belum tuntas ditangani kepada ahli-ahli lain seperti konselor yang lebih senior, konselor yang membidangi spesialisasi tertentu, ahli-ahli lain (misalnya guru bidang studi, psikologi, psikiater, dokter).
Pada sisi yang pertama, yaitu konselor menerima klien dari pihak lain, berkenaan dengan prosedur alih tangan hampir tidak ada persoalan yang memerlukan perhatian khusus, kecuali masalah kesuakrelaan. Pada sisi yang kedua, yaitu konselor mengalihtangankan klien kepada siapa klien yang hendaknya disampaikan kepada pihak lain tempat alih tangan. Dalam kaitan itu, Cormier & Bernard (1982) mengemukakan beberpa praktek yangg salah yang hendaknya tidak dilakukan konselor dalam kegiatan ahli tangan, yaitu:
(1)   Klien tidak diberi alternatif pilihan kepada ahli mana ia akann dialihtangankan.
(2)   Konselor mengalihtangankan klien kepada pihak yang keahliannya diragukan, atau kepada ahli yang repurtasinya kurang dikenal.
(3)   Konselor membicarakan permaslahan klien kepada calon ahli tempat alih tangan tanpa persetujuan klien.
(4)   Konselor menyebutkan nama klien kepada calon ahli tempat alih tangan.
Butir-butir tersebut di atas mengisyaratkan apa-apa yang hendaknya tidak dilakukan dan apa-apa yang hendaknya dilakukan oleh konselor dalam pengalihtangan klien.
Pelaksanaan berbagai layanan terrsebut perlu ditunjang oleh sejumlah kegiatan. Instrumentasi bimbingan dan konseling dengan mempergunakan berbagai teknis tes dan non tenis perlu dikembangkan oleh konselor.
Kegiatan penunjang lain yang cukup penting adalah konferensi kasus, kunjungan ke rumah, dan penyelenggaraan alih tangan. Masing-masing kegiatan tersebut memiliki tujuan dan pola-pola pelaksanaannya sendiri yang semuanya tidak lain unuk meningkatkan penyelenggaraan dan keberhasilan segenap fungsi pelayanan bmbingan dan konseling.






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS